I believe in Newton's Third Law

For every action there is an equal and opposite reaction.
It happens in reality. It really does.

Want to share about your thoughts?
Email me: daniawwrr@yahoo.com :)

Saturday, November 27, 2010

Infinity II

Photobucket
this pic wasn't taken by me. found it on google.

How long have you guys been together?
8 months.

Now tell me how much do you love each other?
Well, let the picture explains.

I can count how many days or even seconds we've been together.
But it's too difficult for me to say how much I love you.
Thank you.

Wednesday, November 24, 2010

Sex Appeal

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Jono from Gugun Blues Shelter (Djakarta Artmosphere 20/11)

Everyone has one.

Monday, November 22, 2010

Sebagai Diri Saya Sendiri

Ya, beberapa hari ini tulisan saya memang agak tersendat, disebabkan karena berbagai hal yang membuat saya harus mengetik, lalu menghapus, lalu mengetik lagi, dan kemudian menghapusnya lagi. Berulang-ulang hal tersebut saya lakukan sehingga membuat saya jenuh. Saya pun akhirnya memutuskan untuk menulis semampunya (baca: bisa dibilang agak asal-asalan). Toh saya lihat, tidak terlalu banyak yang membaca blog saya. Entah lah, terkadang saya merasa saya kurang bisa membuat orang tertarik untuk mengunjungi blog saya. Untuk pertama kali mungkin orang tertarik, tapi saya tidak bisa membuat si pengunjung tertarik membaca untuk yang kedua kalinya.

Saya memang sangat tertarik dalam bidang sosial politik. Sebisa mungkin saya menuangkan pemikiran saya dalam kalimat-kalimat baik, walaupun masih amatir. Walaupun bahasanya masih berbelit-belit tapi di situ-situ saja. Walaupun bahasanya (mungkin) bagus tapi isinya.. Nol.

Mungkin belakangan ini memang posting saya terlihat lebih serius, dan penuh. Maksudnya penuh adalah.. Isinya hanya tulisan. Paragraf-paragraf padat yang di dalamnya terkadang saya tambahkan kata-kata kajian yang (seakan-akan) memperindah kalimat. Tidak tau juga sih, saya hanya suka menulis. Saya suka sekali mengungkapkan perasaan, pendapat, dan pemikiran saya terhadap dunia luar melalui tulisan di blog ini. Tapi, kenapa (yang saya rasa) saya hanya di situ-situ saja? Tidak maju, tidak naik. Tidak ke mana-mana.

Jika dilihat dari postingan lama saya (a few months back), dulu saya lebih sering menulis tentang dunia hiburan, filosofi kehidupan, dan berbagai fakta fiktif (ya, seperti fakta yang saya simpulkan sendiri) dalam hidup. Seringkali saya menampilkan foto-foto hasil jepretan saya, mendeskripsikannya satu persatu, memberi judul yang (sok) puitis, dan lainnya.

Saya suka kedua perbedaaan cara menulis saya itu. Tapi sepertinya, keduanya tidak membawa dampak apa-apa bagi blog saya (baca: bagi jumlah pengunjung dan pembacanya). Mungkin saya tidak perlu terlalu serius, tidak perlu memasang target (memang tidak pernah sih), tidak perlu lihat-lihat blog saya melulu, dan sebagainya. Tapi, kesimpulannya cuma.. Saya butuh komentar dari kalian semua, pengunjung, pembaca, dan bloggers lainnya. Alasan saya bicara begini, karena saya.. Sangat menyukai bidang ini, ingin menggeluti bidang ini (amin), ingin berkembang, dan ingin maju. Selama ini saya kurang bisa mengoreksi karya-karya yang telah saya buat di sini. Saya tidak tau tolak ukurnya. Mungkin karena saya tidak tau seberapa bagus atau seberapa jelek karya saya itu di mata orang lain.

Mungkin perlu saya tutup di sini saja.

Oh ya, hari Sabtu lalu (20/11), saya baru saja menyaksikan penampilan musisi-musisi dua generasi berbeda dalam acara Djakarta Artmosphere 2010. Tahun lalu saya juga datang. Bagus, banyak kolaborasi antar generasi yang menghidupkan suasana. Senangnya, saya bisa foto-foto sesuka hati, walaupun saya pendek (karena dapat tempat berdiri paling depan). Jadi sepertinya, untuk beberapa posting ke depan, isinya tentang DjakSphere 2010 ;) Saya menikmati menulis dan menampilkan (baca: seperti memamerkan) hasil foto saya di sini. Istilahnya, ini benar-benar hidup saya. Saya menikmatinya seperti saya menikmati kopi Arabica warung sebelah.

Ya, kali ini benar-benar akan saya tutup. Saya minta maaf ya kalau ini agak mengganggu. Saya juga minta maaf atas semua posting saya yang mengganggu, hehehe. Satu lagi, saya tidak pernah menolah kritik dan saran, ya. Hanya saja mungkin saya suka menjawab komentar tersebut dengan argumen saya sendiri, tapi saya tidak bermaksud menolak komentar kalian. Patut diingat ;)

Terimakasih, sampai jumpa.

Sunday, November 21, 2010

Deviasi

Saya tidak mau.
Kehilangan.
Anda.

Tapi,
Saya takut.
Saya hilang.
Entah ke mana.
Entah bagaimana.

Ich brauche dich.

Monday, November 8, 2010

Paklawan-Pahlawan

Sering kali saya membuat pengertian akan sesuatu berdasarkan kata itu terlebih dahulu. Entah bahasa apapun itu. Saya pasti akan lihat kata dasarnya yang paling tidak asing di telinga maupun mata saya. Berbagai kata kajian yang baru pertama kali saya dengar sekalipun, pastinya akan saya coba kaitkan dengan kosa kata yang sudah saya kuasai di otak saya.

Baru beberapa menit lalu saya membuat suatu kesimpulan sederhana (yang mungkin sedikit konyol) tentang kepahlawanan. Berbagai hal yang terjadi belakangan ini menginspirasi saya untuk mengangkat topik kepahlawanan ini. Mulai dari berbagai tokoh bangsa yang dengan rumitnya dipersiapkan gelar kepahlawanannya. Sampai para pahlawan yang tak terhitung jumlahnya, ada di sekitar kita.

Memang sedikit konyol jika saya membuat kesimpulan seperti ini:
Kata "pahlawan" seakan diambil dari kata "paklawan" yang jika diucapkan secara perlahan, menjadi.. "Pak, lawan." Sebutan "Pak" di sini menurut saya hanyalah simbol bahwa pahlawan itu adalah seorang manusia yang pantas dihormati, namun bukan berarti hanya seseorang yang ahli atau diagungkan. Tetapi bukan berarti, sebutan pahlawan itu hanya bisa disandang oleh laki-laki. Sedangkan kata "lawan" di sini menunjukkan tindakan yang berani dilakukan oleh seseorang itu. Entah berupa apa, yang jelas tindakan tersebut merupakan tindakan konkrit yang dilakukan dengan pengorbanan. Bagi saya, kata "lawan" dalam pahlawan itu berarti berani. Berani dalam melawan segala hal, dari sisi positif. Mencakup berbagai hal seperti melawan keterbelakangan, melawan diskriminasi, melawan segala keinginan pribadi demi orang lain, melawan keterpurukkan, melawan keputusasaan, dan sebagainya. Mereka, para pahlawan.. Berani melawan keadaan yang buruk, demi suatu perubahan positif. Satu hal lagi, pahlawan tidak tertentu bidangnya. Setiap bidang bisa melahirkan pahlawannya masing-masing.

Dalam pandangan saya, sebutan pahlawan adalah sesuatu yang relatif. Bukan sesuatu yang paten atau tidak bisa berubah. Bagi setiap orang, pahlawan itu berbeda. Entah apa pahlawan itu, siapa pahlawan itu, ataupun mengapa pahlawan itu ada. Ini suatu pandangan yang benar-benar subjektif dan memang.. Tidak bisa dipaksakan menjadi suatu pandangan global. Walaupun terdapat berbagai penetapan gelar pahlawan di Indonesia, tetapi pahlawan setiap orang tetap saling berbeda. Bagi saya, ibu saya adalah pahlawan terbesar dalam hidup saya. Tetapi mungkin bagi teman-teman saya, ibu saya hanyalah seorang wanita yang sering mereka lihat sedang menjemput saya sepulang sekolah. Setiap orang memililki persepsinya masing-masing. Setiap orang memiliki pahlawannya masing-masing, yang lahir dari dunia.. Dan otaknya sendiri.

Sebut saja para tokoh bangsa kita, seperti alm. Soeharto, yang baru saja diberi gelar pahlawan, karena telah membangun negeri ini selama masa Orde Baru. Meskipun terdapat berbagai penyimpangan dan kekacauan, tetapi setidaknya Beliau pernah membawa Indonesia menuju tingkat jaya. Yang ingin saya tekankan di sini adalah, gelar pahlawan itu kesannya.. Sangat dipersiapkan dan (memang) mengalami proses yang sedikit bertele-tele.

Saya cukup menghargai usaha negara untuk menunjukkan suatu apresiasi terhadap seseorang yang telah berjasa bagi negara kita. Hal tersebut mungkin mirip dengan apa yang dilakukan dunia kepada Liu Xiaubo, tokoh prodemokrasi Cina yang meraih nobel perdamaian 2010. Saya sangat menghargai bagaimana negara kita mencoba untuk menghayati sisi kepahlawanan seseorang.

Tetapi, sayangnya terkadang hal-hal tersebut membentuk pemikiran seseorang dengan cara yang (menurut saya), kurang tepat.

Sepertinya bagi saya, kata pahlawan lebih tepat disebut dalam kata sifat. Sifat kepahlawanan. Karena setiap orang memiliki sifat tersebut, yang tentunya tidak menutup kemungkinan seseorang menjadi pahlawan bagi orang lain, atau bagi dirinya sendiri. Seperti lagu dari seorang penyanyi senior, Mariah Carey yang berjudul Hero. Pada lagu itu terbilang "there's a hero, when you look inside your heart." Saya mengambil kesimpulan bahwa setiap orang memiliki sifat tersebut dalam dirinya.

Sifat kepahlawanan itu awalnya dimiliki oleh setiap manusia di dunia ini. Hanya tergantung bagaimana setiap individu mempergunakannya dan menjalani hidupnya dengan sifat kepahlawanannya itu. Saat seseorang sudah mampu dan berani menunjukkan sifatnya itu secara konkrit. Saat seseorang itu sudah berani melawan dengan aura positif. Saat seseorang itu pantas dihargai, dan dihormati usahanya.. Ia menjadi pahlawan. Sifat kepahlawanan itu pun dapat berubah-ubah. Kembali lagi, semuanya tergantung pada pemilik sifat tersebut. Tergantung sejauh mana si pemilik sifat itu mau dan mampu menunjukkannya secara nyata. Ada proses, ada kesimpulan.

Saya pun berani mengatakan bahwa pahlawan yang perlu saya acungkan ibu jari adalah para relawan. Entah relawan apa, di mana, dan siapa. Mereka rela berkorban demi sesuatu yang mungkin merugikan mereka. Mereka yang terjun langsung dalam dunia pendidikan rakyat kecil. Mereka yang terjun langsung dalam bidang kesehatan masyarakat kurang mampu. Mereka yang mau terlibat langsung dengan bahaya bencana alam. Mereka yang mau melawan keinginan pribadi mereka untuk memenuhi kebutuhan orang lain terlebih dahulu.

Secara khusus saya dedikasikan tulisan ini untuk mereka, para relawan yang membantu korban-korban bencana alam di beberapa daerah di Indonesia. Antara lain adalah bencana Merapi, banjir bandang Wasior, dan tsunami di Mentawai. Walaupun saya tidak bisa banyak membantu dalam bentuk materi, ataupun terjun langsung, saya akan selalu bantu dengan doa.

Comments are still expected ;)

Sunday, November 7, 2010

Berdoa II

Mereka semua membutuhkan doa kita.
Walaupun tidak bisa membantu dalam bentuk materi atau terjun langsung,



setidaknya.. Kita sudah membantu menyampaikan permohonan pada Tuhan.

Nanti-nanti saya akan update lagi. Maaf.