I believe in Newton's Third Law

For every action there is an equal and opposite reaction.
It happens in reality. It really does.

Want to share about your thoughts?
Email me: daniawwrr@yahoo.com :)
Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Tuesday, April 3, 2012

All You Need is Love


















































This is why I've been gone for so long.
I'm having a good life.
Physically, financially, mentally..

But I definitely will get back to writing stuff.
Soon.
Oh, I am going to The Hague for university. Wait for my new life. :)

Follow me @DaniaKP

Friday, May 27, 2011

Bukan Semata-mata Pergi ke Sawah atau Bermain Layangan

Saya baru saja menjalani suatu program yang setiap tahun diadakan bagi siswi-siswi kelas XI di sekolah saya. Program tersebut disebut live-in. Memang sudah banyak pula sekolah-sekolah lain yang juga menjalani program ini, bahkan di SMP tempat saya bersekolah pun, sekarang program ini diadakan. Namun baru kali ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti live-in ini.

Desa yang kami tempati berada di dalam kabupaten Sleman. Lebih tepatnya lagi, sebagian dari kami ditempatkan di beberapa lingkungan di Paroki Klepu. Sedangkan sisanya bertempat di Samigaluh, Kulon Progo.

Bagi kami yang bertempat di Klepu, kami terbagi di beberapa daerah, seperti Pojok, Kleben, Sendangsari, dan Sendangrejo. Saya dan Nadia, teman sekamar saya, kebetulan mendapat Justify Fulldaerah Sendangrejo, yang kebetulan juga cukup jauh dari teman-teman saya yang lain.

Sebelum sampai ke rumah yang akan kami tempati, saya telah menyiapkan diri secara fisik ataupun mental, untuk melihat keadaan yang paling buruk yang dapat saya bayangkan. Saya tidak membawa keperluan-keperluan saya yang biasanya memenuhi meja rias di rumah saya. Saya tidak membawa bantal, selimut, atau boneka kesayangan saya (memang tidak punya sih). Saya tidak membawa sereal untuk menjaga-jaga kalau saya tidak akan menyukai makanan di sana. Saya hanya membawa kaos secukupnya. Saya sudah membawa deterjen untuk mencuci baju pakai tangan di sana. Ya, cukup. Intinya saya sudah benar-benar mempersiapkan diri saya untuk menginap selama 6 hari 5 malam di sebuah rumah yang keadaannya sungguh bertolak belakang dengan tempat tinggal saya di Jakarta.

Tanpa kami sangka-sangka, mobil yang mengantar kami dari paroki Klepu ke Sendangrejo tersebut berhenti di depan sebuah rumah yang jauh lebih baik dari ekspektasi kami. Jauh sekali.

Bagian lantai rumah seluruhnya sudah dilapisi oleh keramik, sedangkan dinding-dinding juga telah dicat dengan cat tembok. Kami sempat mengira, kami diturunkan di rumah yang salah. Tetapi ternyata tidak. Yang lebih mengagetkan lagi, orang tua kami di sana bekerja di kantor, dan memiliki toko pertanian. Mereka bukan petani, atau guru, atau tukang cuci, atau pengrajin, dan sebagainya. Mereka memiliki dua anak perempuan. Anaknya yang pertama baru saja lulus SMA, dan anaknya yang kedua baru saja menyelesaikan UN SMPnya. Rumah mereka sangat nyaman, cukup bersih, dan cukup luas. Mereka memiliki dua televisi, kulkas, rice cooker, dan kompor. Bahkan juga satu mobil, dan empat motor.

Hal tersebut semakin membuat saya bingung. Saya kira.. Desa yang akan kami tempati, tidak memiliki aliran listrik. Atau, rumah yang mereka tempati hanya berdinding bambu. Tetapi ternyata.. Saya dan Nadia diberi kesempatan untuk tinggal di tempat yang begitu nyaman. Kegiatan kami pun cukup beragam. Mulai dari pergi ke kota untuk menemani anak pertama Bapak dan Ibu untuk berkonsultasi mengenai kuliah, pergi ke gereja, doa rosario bersama, bermain layangan, bermain gamelan, membantu Ibu menyapu dan memasak, dan sebagainya.

Karena rumah yang kami tempati berlokasi cukup jauh dari rumah yang ditempati teman-teman kami lainnya, selama empat hari pertama kami sama sekali tidak bertemu dengan teman-teman lain. Dan jujur saja, saya sangat menikmati hari-hari itu. Hari-hari di mana kami lebih terfokus pada kegiatan live-in yang menekankan hubungan kami dengan keluarga yang bersangkutan, bukan bermain dengan teman-teman kami dari Jakarta yang tinggal sedusun. Lima hari tanpa fasilitas seperti di kota, seperti HP, laptop, internet, dll, sungguh menenangkan bagi saya dan Nadia. Kami pun cukup menikmati hari-hari itu. Hanya saja pada hari ke lima, kami sempat bertemu dengan beberapa teman kami yang ternyata memang ditempatkan di rumah-rumah yang cukup jauh dari rumah yang kami tempati. Mereka pun begitu antusias bercerita tentang keluarga baru mereka yang cukup beragam. Beberapa dari orang tua mereka bekerja sebagai petani dan guru. Sebagian dari mereka juga memiliki pengalaman menyentuh masing-masing.

Dan saya? Saya pun memiliki pengalaman yang menurut saya juga berbeda dengan mereka yang pergi ke sawah, ke sekolah tempat Bapak/Ibunya mengajar, atau ke pasar untuk membeli aneka jajanan dan bahan-bahan memasak. Saya juga mendapat banyak nilai-nilai baru yang sebelumnya tidak saya temukan di Jakarta. Hmm, mungkin pernah saya temukan, tetapi nilai-nilai itu lebih dapat saya hayati di Sendangrejo.

Bagi saya, makna kegiatan ini bukan semata-mata terlihat ketika kita pergi ke sawah, memberi makan kerbau di kandang, pergi ke pasar, atau bermain layangan. Namun saya lebih menekankan pada kehidupan yang jauh dari keluarga di Jakarta (atau tempat tinggal tetap kita lainnya), yang mengharuskan kita beradaptasi dengan keluarga baru di desa. Saya juga belajar untuk menerima orang lain apa adanya, tanpa melihat kita keturunan pribumi, Tionghoa, atau lainnya. Mereka di sana begitu terbuka, akrab satu sama lain, dan.. Hangat. Jujur saja, jarang sekali masyarakat seperti itu saya temukan di Jakarta.

Dan hari ini, saya pun kembali ke rumah dengan senyuman. Senyuman akan nilai-nilai baru yang saya peroleh, dan senyuman akan kehidupan kota Jakarta yang akan saya nikmati lagi.

Friday, February 18, 2011

Menyerah?

Hari ini saya berbicara (kalau bisa) singkat saja. Berhubung pagi sudah semakin dekat, dan saya juga harus tidur karena harus bangun lebih cepat. Tapi sebenarnya masih ingin berceloteh ria. Mungkin akhir dari tulisan ini adalah sebuah pertanyaan, atau sebuah bentuk protes, atau sebuah bentuk.. Ah apa saja lah.

Topiknya akan saya buka mulai dari pelajaran ekonomi saya di sekolah tadi. Kami sedang mempelajari tentang pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Setelah membahas semakin dalam, akhirnya kami sampai pada pembicaraan mengenai masyarakat Indonesia. Memang hanya sebentar. Tetapi kalimat-kalimat yang diucapkan oleh guru saya itu sama seperti yang selama ini terngiang-ngiang di kepala saya. Mirip sekali dengan pemikiran saya tentang hal yang menjadi akar masalah kependudukan di Indonesia ini.

Kami berbicara tentang kualitas dan kuantitas penduduk di negeri ini. Mungkin sebelumnya saya memang pernah menulis sedikit tentang kualitas versus kuantitas, dan kali ini saya ingin membicarakannya sekali lagi, sekaligus memaparkan pendapat (serta mungkin perasaan) saya sekarang terhadap masalah itu.

Seperti yang kita semua ketahui, Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya manusia yang sangat melimpah. Hal tersebut menjadi daya dukung bagi proses produksi yang akan mempengaruhi pembangungan ekonomi Indonesia. Sumber daya manusia yang melimpah dapat menjadi pendukung salah satu unsur kegiatan produksi yaitu tenaga kerja. Selain itu, jumlah penduduk yang tinggi juga akan meningkatkan jumlah konsumsi dalam masyarakat. Sehingga hal tersebut akan memicu kemajuan rumah tangga produksi dalam usahanya.

Tetapi sayangnya, kita harus kembali melihat pelaksanaannya. Berbagai peluang yang dapat membangun Indonesia memang dapat terlihat, tetapi hal tersebut kurang dimanfaatkan oleh negara kita. Bukan hanya pemerintah, bahkan oleh kita sendiri sebagai masyarakat.

Kuantitas penduduk Indonesia memang tinggi. Jumlah penduduk di Indonesia saat ini hampir mencapai 230 juta (menurut data tahun 2009). Tetapi apakah angka itu sebanding dengan kualitas tiap individu? Apakah angka itu merupakan suatu peluang atau hambatan? Pandangan seperti ini memang sudah seringkali dipaparkan oleh banyak orang. Tetapi bagaimana dengan realisasinya? Apakah menurut Anda situasi ini memungkinkan untuk diperbaiki?

Yang negara butuhkan adalah produktivitas penduduk. Ketika penduduk mulai produktif, tentunya setiap orang akan mudah terlibat dan berpartisipasi dalam segala bentuk kegiatan yang dapat membangun negara. Lalu apakah 230 juta jiwa di Indonesia ini produktif? Apakah sebagian besar dari mereka produktif? Atau setengahnya? Atau hanya sepertiganya? Atau seberapa?

Saya memang baru pemula dalam hal seperti ini. Saya memang baru belakangan ini lebih konsisten dalam memperhatikan keadaan sekitar, dan mulai berani mengemukakan pendapat saya. Saya memang baru berusia 16 tahun dengan pemikiran yang masih mentah. Saya memang masih terlalu muda, untuk berkata bahwa saya juga berkualitas. Tetapi saya hanya sedang berpikir, apakah mereka yang tergolong berkualitas (yang mungkin jumlahnya belum terlalu banyak), akan mempengaruhi mereka yang kurang berkualitas? Apakah 5 tetes cat warna putih akan mengubah drastis 10 tetes cat warna merah? Apakah semudah itu?

Kekuatan pikiran saya pun dapat dikatakan semakin berkurang. Dari 10, sekarang hanya 5. Dari yakin sekali, menjadi agak ragu-ragu. Segala bentuk harapan saya akan negara mulai memudar, dari warna merah pekat menjadi merah jambu. Saya bertanya pada diri saya sendiri, sedikit berpikir untuk egois. Pikiran saya mulai terbagi-bagi. Ada keinginan untuk hidup idealis dengan tujuan memajukan negara, dan juga keinginan untuk mencari kesuksesan sendiri sebagai individu yang tidak terikat suatu apapun, termasuk kewarganegaraan.

Entahlah. Saya pun masih sibuk dengan pikiran saya. Banyak di antara mereka yang berkualitas itu pergi, mencari kesuksesan yang lebih berharga di negeri orang. Mungkin saya akan bergabung?

Friday, January 21, 2011

Rasa

Suatu malam ingin saya habiskan dengan menulis sesuatu. Bercuap-cuap tanpa suara. Bukan tanpa suara, tetapi tanpa kata-kata yang terlontar dari mulut. Yang ada hanyalah bunyi keyboard yang sesekali ramai, sesekali berhenti sama sekali. Ditemani lantunan lagu-lagu kegalauan malam hari ataupun saat hujan. Ini adalah malam. Malam yang dulu seringkali saya lewati. Malam yang seringkali saya nikmati. Malam yang sejak dulu saya sukai. Ditambah satu lagi.. Secangkir kopi hitam panas yang sesekali saya seruput untuk menghindari rasa kantuk.

Tetapi terkadang keadaan tidak mendukung suasana malam itu. Entah itu kondisi fisik, atau berbagi kepentingan lainnya yang mengurangi kenikmatan malam itu. Lalu pada malam ini saya menemukan kesempatan yang selama ini bisa dibilang hilang.

Sepertinya lebih baik saya langsung mengarah pada topik pembicaraan saja. Beberapa orang (dengan blog atau tulisan-tulisannya) menginspirasi saya untuk menulis sesuatu tentang pribadi manusia. Ya ini bukan analisis yang sengaja saya lakukan, ini hanyalah argumentasi. Baiklah, saya ini ingin membicarakan tentang pikiran dan kegelisahan setiap orang. Setiap manusia yang menjalani kehidupan di dunia ini.

Mereka yang memiliki blog atau pernah mempublikasikan tulisannya, sebagian besar terkadang mengalami masa yang disebut.. Masa labil. Di mana seseorang merasa emosinya naik turun. Merasa hidupnya monoton, atau merasa hidupnya terlalu tidak menentu. Atau mungkin, merasa hidupnya terkadang sempurna namun hampa. Masa di mana seseorang itu tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik, sehingga membuat pikiran dan tindakannya sedikit menyimpang dari biasanya.

Sebagian dari pemilik tulisan-tulisan itu merasa hidupnya hampa. Tidak ada orang lain dalam hidupnya yang bisa menjadi penolong baginya. Mereka merasa kesulitan dalam menumpahkan rasa, entah itu bahagia atau sedih. Mereka merasa kebingungan bagaimana caranya menjadi seorang individu yang independen, percaya diri, dan bahagia. Mereka menyebut-nyebut keputusasaan. Namun dari semua itu, saya menemukan beberapa sisi positif dari mereka.

Jika mereka berkata bahwa mereka kesulitan menumpahkan keluh kesah mereka, saya merasa mereka salah besar. Semua hal yang mereka tuangkan dalam paragraf-paragraf yang dapat dibaca banyak orang, menjadi salah satu sarananya untuk melampiaskan rasa sakit dalam hidupnya. Terkadang mereka menyebut diri mereka labil, tidak waras, aneh, dan sebagainya dalam tulisan-tulisan mereka itu. Tetapi pada dasarnya, apakah orang yang tidak waras akan mengakui bahwa ia tidak waras?

Jika mereka berkata bahwa semua unsur dalam dirinya adalah suatu hal yang negatif, mereka juga salah besar. Mari kita lihat. Saya pernah mengalami suatu masa yang membuat saya merasa kehilangan setengah jiwa saya. Terkadang saya menulis, merangkai kata-kata, membuat suatu karya sastra yang mengalir begitu saja tanpa tata bahasa, dan sebagainya. Hasil dari semua itu.. Indah. Jujur saja, terkadang saya merasa kegalauan hati itu membantu seseorang untuk menemukan rasa dari seni, terutama sastra.

Dulu saya adalah salah satu di antara mereka, yang dari tadi saya bicarakan. Ataukah sampai sekarang?

Saya pun tidak tahu jawabannya. Saya hanya bersyukur akan grafik kehidupan yang selama ini telah terlukis dalam perjalanan hidup saya. Saya mengalami kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, kebanggaan, yang begitu kerap melatih emosi saya. Saya selalu mengambil dua sisi dari setiap peristiwa dalam hidup saya. Positif dan negatif. Hal tersebut selalu membantu saya untuk melewati berbagai peristiwa dalam keseharian saya. Saya pun berkembang. Semakin mengerti akan bermacam-macam hal di dunia ini. Semakin menyadari betapa menariknya hidup.

Berbagai kesulitan hidup mengajari saya banyak hal. Mulai dari bersyukur, berdoa, meminta tolong, berterimakasih, dan sebagainya. Saya pun terkadang mengakui kegalauan yang sesekali setiap orang perlukan. Kegalauan itu mengolah rasa. Tetapi perlu ada introspeksi, perbaikan, dan perkembangan diri.

Hidup itu indah. Klise, ya. Tetapi, pernyataan itu benar.

Sunday, January 9, 2011

Jarak Abstrak

Ada gedung tinggi, tetapi ada yang membebani bahu.
Photobucket

Selalu ada jarak yang harus ada.
Antara satu orang dengan orang lain.
Antara satu kendaraan dengan kendaraan lain.
Antara satu gerakan dengan gerakan lain.
Antara satu tempat dengan tempat lain.
Antara satu kelas dengan kelas lain.
Antara satu jarak dengan jarak yang lain.
Antara satu hal dengan hal yang lain.

Memang sepantasnya begitu. Tetapi terkadang, jarak itu menempatkan diri seenaknya saja. Melempar jauh yang di depan, membuang jauh yang terbelakang. Jarak itu terkadang tidak tahu tempat. Jarak itu terkadang lupa mengukur dirinya sendiri.

Tetapi terkadang kesalahan juga bukan hanya dari jarak itu sendiri. Terkadang jarak itu memang tidak mengerti bagaimana harusnya menempatkan dirinya sendiri. Terkadang makhluk hidup pun yang lupa mengatur jarak itu sendiri. Lupa pada sesama dan dirinya sendiri. Lupa dengan jarak yang di antaranya. Terkadang manusia yang bertingkah. Terkadang manusia tidak memanfaatkan otaknya sebagai pusat saraf dari seluruh tubuh secara benar, untuk membantu dirinya mempertimbangkan segala kemelut hidup dan membantu dirinya menyeimbangkan jarak yang daritadi saya bicarakan. Saya bicara tentang materi, tentang sisi psikologis, dan sebagainya.

Kalau yang saya dengar dari seseorang bernama "Sudjiwo Tedjo", hidup berawal dari sebuah pertanyaan. Kemudian saya berpikir lagi, dan menemukan bahwa akhir dari hidup kita sendiri juga menjadi sebuah pertanyaan. Satu hari mungkin kita lalui tanpa amarah. Tetapi tidak mungkin kita lalui tanpa pertanyaan. Satu hari mungkin kita lalui tanpa jawaban jelas, tetapi tidak mungkin kita lalui tanpa pertanyaan. Dan kali ini.. Saya pun juga ingin mengajukan pertanyaan ini pada Anda..

Ada apa dengan jarak ini?

Saturday, January 1, 2011

Next

Let's go forward.

Photobucket
That was how it looks like on the New Year's Eve around Kelapa Gading roundabout. I was in La Piazza with my brother. It was a last-minute decision. I finally chose to take some pics around La Piazza (catching some great fireworks) for new year.

So here are the fireworks.
It kept smashing until 15 minutes after the countdown ended.
Photobucket
It was my first time taking pics of this kind of fireworks. Well it was tiring, but fun ; )

Photobucket
Photobucket
Photobucket
The last one is my favorite.

Well guys, all I have to say is HAPPY NEW YEAR 2011! I can't write a lot. Yea, maybe this is one of my resolutions for 2011. I gotta practice more to improve my writing. To improve my English. Hahaha. I guess I'd be writing my new-year-post afterward in Indonesian language, regarding that I am Indonesian ;) Huh there are tons of things to say here. To talk about.

Okay pals, enjoy 2011! I believe life must be more difficult, but I also believe that you must be able to struggle harder. And to reach your dreams by efforts, and prayers.

Happy holiday (which is almost over)!

Wednesday, December 29, 2010

Too Late

I know it's too late. But I really want to say "MERRY CHRISTMAS" to all of you guys ;)
Sorry for this total mess. I was too busy with lots of new things. I even.. Forgot that this blog belongs to me.

Well, I just wish you had already had your precious moments this Christmas ;)

Let me tell you a bit about mine.
I went to Puncak with my family, aunts, uncles, grandma, and my cousins. My dad just got a villa to stay in when the capital city seems to be too busy in some particular periods. Yeah so we decided to go there on the 24th, then we were back on the 26th.

Photobucket
It was kinda weird that we played with some fireworks instead of something-more-christmas-y. Yeah it felt like new year. And that's my brother, by the way.

Photobucket
Photobucket
that's me (orange ts) with my brothers, and my cousins.

Well that's all about my Christmas.
I thought it'd be a gloomy Christmas before. But man, it's Christmas! There's no such thing as gloomy Christmas. I thank God for everything. I thank God for letting Jesus came to me through the people around me.

Saturday, November 27, 2010

Infinity II

Photobucket
this pic wasn't taken by me. found it on google.

How long have you guys been together?
8 months.

Now tell me how much do you love each other?
Well, let the picture explains.

I can count how many days or even seconds we've been together.
But it's too difficult for me to say how much I love you.
Thank you.

Monday, November 22, 2010

Sebagai Diri Saya Sendiri

Ya, beberapa hari ini tulisan saya memang agak tersendat, disebabkan karena berbagai hal yang membuat saya harus mengetik, lalu menghapus, lalu mengetik lagi, dan kemudian menghapusnya lagi. Berulang-ulang hal tersebut saya lakukan sehingga membuat saya jenuh. Saya pun akhirnya memutuskan untuk menulis semampunya (baca: bisa dibilang agak asal-asalan). Toh saya lihat, tidak terlalu banyak yang membaca blog saya. Entah lah, terkadang saya merasa saya kurang bisa membuat orang tertarik untuk mengunjungi blog saya. Untuk pertama kali mungkin orang tertarik, tapi saya tidak bisa membuat si pengunjung tertarik membaca untuk yang kedua kalinya.

Saya memang sangat tertarik dalam bidang sosial politik. Sebisa mungkin saya menuangkan pemikiran saya dalam kalimat-kalimat baik, walaupun masih amatir. Walaupun bahasanya masih berbelit-belit tapi di situ-situ saja. Walaupun bahasanya (mungkin) bagus tapi isinya.. Nol.

Mungkin belakangan ini memang posting saya terlihat lebih serius, dan penuh. Maksudnya penuh adalah.. Isinya hanya tulisan. Paragraf-paragraf padat yang di dalamnya terkadang saya tambahkan kata-kata kajian yang (seakan-akan) memperindah kalimat. Tidak tau juga sih, saya hanya suka menulis. Saya suka sekali mengungkapkan perasaan, pendapat, dan pemikiran saya terhadap dunia luar melalui tulisan di blog ini. Tapi, kenapa (yang saya rasa) saya hanya di situ-situ saja? Tidak maju, tidak naik. Tidak ke mana-mana.

Jika dilihat dari postingan lama saya (a few months back), dulu saya lebih sering menulis tentang dunia hiburan, filosofi kehidupan, dan berbagai fakta fiktif (ya, seperti fakta yang saya simpulkan sendiri) dalam hidup. Seringkali saya menampilkan foto-foto hasil jepretan saya, mendeskripsikannya satu persatu, memberi judul yang (sok) puitis, dan lainnya.

Saya suka kedua perbedaaan cara menulis saya itu. Tapi sepertinya, keduanya tidak membawa dampak apa-apa bagi blog saya (baca: bagi jumlah pengunjung dan pembacanya). Mungkin saya tidak perlu terlalu serius, tidak perlu memasang target (memang tidak pernah sih), tidak perlu lihat-lihat blog saya melulu, dan sebagainya. Tapi, kesimpulannya cuma.. Saya butuh komentar dari kalian semua, pengunjung, pembaca, dan bloggers lainnya. Alasan saya bicara begini, karena saya.. Sangat menyukai bidang ini, ingin menggeluti bidang ini (amin), ingin berkembang, dan ingin maju. Selama ini saya kurang bisa mengoreksi karya-karya yang telah saya buat di sini. Saya tidak tau tolak ukurnya. Mungkin karena saya tidak tau seberapa bagus atau seberapa jelek karya saya itu di mata orang lain.

Mungkin perlu saya tutup di sini saja.

Oh ya, hari Sabtu lalu (20/11), saya baru saja menyaksikan penampilan musisi-musisi dua generasi berbeda dalam acara Djakarta Artmosphere 2010. Tahun lalu saya juga datang. Bagus, banyak kolaborasi antar generasi yang menghidupkan suasana. Senangnya, saya bisa foto-foto sesuka hati, walaupun saya pendek (karena dapat tempat berdiri paling depan). Jadi sepertinya, untuk beberapa posting ke depan, isinya tentang DjakSphere 2010 ;) Saya menikmati menulis dan menampilkan (baca: seperti memamerkan) hasil foto saya di sini. Istilahnya, ini benar-benar hidup saya. Saya menikmatinya seperti saya menikmati kopi Arabica warung sebelah.

Ya, kali ini benar-benar akan saya tutup. Saya minta maaf ya kalau ini agak mengganggu. Saya juga minta maaf atas semua posting saya yang mengganggu, hehehe. Satu lagi, saya tidak pernah menolah kritik dan saran, ya. Hanya saja mungkin saya suka menjawab komentar tersebut dengan argumen saya sendiri, tapi saya tidak bermaksud menolak komentar kalian. Patut diingat ;)

Terimakasih, sampai jumpa.

Monday, November 8, 2010

Paklawan-Pahlawan

Sering kali saya membuat pengertian akan sesuatu berdasarkan kata itu terlebih dahulu. Entah bahasa apapun itu. Saya pasti akan lihat kata dasarnya yang paling tidak asing di telinga maupun mata saya. Berbagai kata kajian yang baru pertama kali saya dengar sekalipun, pastinya akan saya coba kaitkan dengan kosa kata yang sudah saya kuasai di otak saya.

Baru beberapa menit lalu saya membuat suatu kesimpulan sederhana (yang mungkin sedikit konyol) tentang kepahlawanan. Berbagai hal yang terjadi belakangan ini menginspirasi saya untuk mengangkat topik kepahlawanan ini. Mulai dari berbagai tokoh bangsa yang dengan rumitnya dipersiapkan gelar kepahlawanannya. Sampai para pahlawan yang tak terhitung jumlahnya, ada di sekitar kita.

Memang sedikit konyol jika saya membuat kesimpulan seperti ini:
Kata "pahlawan" seakan diambil dari kata "paklawan" yang jika diucapkan secara perlahan, menjadi.. "Pak, lawan." Sebutan "Pak" di sini menurut saya hanyalah simbol bahwa pahlawan itu adalah seorang manusia yang pantas dihormati, namun bukan berarti hanya seseorang yang ahli atau diagungkan. Tetapi bukan berarti, sebutan pahlawan itu hanya bisa disandang oleh laki-laki. Sedangkan kata "lawan" di sini menunjukkan tindakan yang berani dilakukan oleh seseorang itu. Entah berupa apa, yang jelas tindakan tersebut merupakan tindakan konkrit yang dilakukan dengan pengorbanan. Bagi saya, kata "lawan" dalam pahlawan itu berarti berani. Berani dalam melawan segala hal, dari sisi positif. Mencakup berbagai hal seperti melawan keterbelakangan, melawan diskriminasi, melawan segala keinginan pribadi demi orang lain, melawan keterpurukkan, melawan keputusasaan, dan sebagainya. Mereka, para pahlawan.. Berani melawan keadaan yang buruk, demi suatu perubahan positif. Satu hal lagi, pahlawan tidak tertentu bidangnya. Setiap bidang bisa melahirkan pahlawannya masing-masing.

Dalam pandangan saya, sebutan pahlawan adalah sesuatu yang relatif. Bukan sesuatu yang paten atau tidak bisa berubah. Bagi setiap orang, pahlawan itu berbeda. Entah apa pahlawan itu, siapa pahlawan itu, ataupun mengapa pahlawan itu ada. Ini suatu pandangan yang benar-benar subjektif dan memang.. Tidak bisa dipaksakan menjadi suatu pandangan global. Walaupun terdapat berbagai penetapan gelar pahlawan di Indonesia, tetapi pahlawan setiap orang tetap saling berbeda. Bagi saya, ibu saya adalah pahlawan terbesar dalam hidup saya. Tetapi mungkin bagi teman-teman saya, ibu saya hanyalah seorang wanita yang sering mereka lihat sedang menjemput saya sepulang sekolah. Setiap orang memililki persepsinya masing-masing. Setiap orang memiliki pahlawannya masing-masing, yang lahir dari dunia.. Dan otaknya sendiri.

Sebut saja para tokoh bangsa kita, seperti alm. Soeharto, yang baru saja diberi gelar pahlawan, karena telah membangun negeri ini selama masa Orde Baru. Meskipun terdapat berbagai penyimpangan dan kekacauan, tetapi setidaknya Beliau pernah membawa Indonesia menuju tingkat jaya. Yang ingin saya tekankan di sini adalah, gelar pahlawan itu kesannya.. Sangat dipersiapkan dan (memang) mengalami proses yang sedikit bertele-tele.

Saya cukup menghargai usaha negara untuk menunjukkan suatu apresiasi terhadap seseorang yang telah berjasa bagi negara kita. Hal tersebut mungkin mirip dengan apa yang dilakukan dunia kepada Liu Xiaubo, tokoh prodemokrasi Cina yang meraih nobel perdamaian 2010. Saya sangat menghargai bagaimana negara kita mencoba untuk menghayati sisi kepahlawanan seseorang.

Tetapi, sayangnya terkadang hal-hal tersebut membentuk pemikiran seseorang dengan cara yang (menurut saya), kurang tepat.

Sepertinya bagi saya, kata pahlawan lebih tepat disebut dalam kata sifat. Sifat kepahlawanan. Karena setiap orang memiliki sifat tersebut, yang tentunya tidak menutup kemungkinan seseorang menjadi pahlawan bagi orang lain, atau bagi dirinya sendiri. Seperti lagu dari seorang penyanyi senior, Mariah Carey yang berjudul Hero. Pada lagu itu terbilang "there's a hero, when you look inside your heart." Saya mengambil kesimpulan bahwa setiap orang memiliki sifat tersebut dalam dirinya.

Sifat kepahlawanan itu awalnya dimiliki oleh setiap manusia di dunia ini. Hanya tergantung bagaimana setiap individu mempergunakannya dan menjalani hidupnya dengan sifat kepahlawanannya itu. Saat seseorang sudah mampu dan berani menunjukkan sifatnya itu secara konkrit. Saat seseorang itu sudah berani melawan dengan aura positif. Saat seseorang itu pantas dihargai, dan dihormati usahanya.. Ia menjadi pahlawan. Sifat kepahlawanan itu pun dapat berubah-ubah. Kembali lagi, semuanya tergantung pada pemilik sifat tersebut. Tergantung sejauh mana si pemilik sifat itu mau dan mampu menunjukkannya secara nyata. Ada proses, ada kesimpulan.

Saya pun berani mengatakan bahwa pahlawan yang perlu saya acungkan ibu jari adalah para relawan. Entah relawan apa, di mana, dan siapa. Mereka rela berkorban demi sesuatu yang mungkin merugikan mereka. Mereka yang terjun langsung dalam dunia pendidikan rakyat kecil. Mereka yang terjun langsung dalam bidang kesehatan masyarakat kurang mampu. Mereka yang mau terlibat langsung dengan bahaya bencana alam. Mereka yang mau melawan keinginan pribadi mereka untuk memenuhi kebutuhan orang lain terlebih dahulu.

Secara khusus saya dedikasikan tulisan ini untuk mereka, para relawan yang membantu korban-korban bencana alam di beberapa daerah di Indonesia. Antara lain adalah bencana Merapi, banjir bandang Wasior, dan tsunami di Mentawai. Walaupun saya tidak bisa banyak membantu dalam bentuk materi, ataupun terjun langsung, saya akan selalu bantu dengan doa.

Comments are still expected ;)

Sunday, November 7, 2010

Berdoa II

Mereka semua membutuhkan doa kita.
Walaupun tidak bisa membantu dalam bentuk materi atau terjun langsung,



setidaknya.. Kita sudah membantu menyampaikan permohonan pada Tuhan.

Nanti-nanti saya akan update lagi. Maaf.

Saturday, October 30, 2010

Kuantitas vs Kualitas

Entah di negara mana pun juga, kondisi suatu negara akan bidang tertentu ditentukan oleh data yang bersifat kuantitatif serta dapat dibandingkan secara jelas besar atau tingkatannya satu dengan yang lain. Secara sederhana, kita terlalu sering menggunakan angka. Bahkan selama jenjang pendidikan sekalipun, segala jenis kualitas sesuatu ditentukan oleh angka. Ya, secara kualitatif.

Mungkin salah satu tujuannya adalah, untuk mempermudah penampilan data yang dapat dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat.

Tetapi masalahnya adalah, sepertinya negara kita selalu sering menggunakan angka. Melebihi negara-negara lain yang masih mengukur keseimbangan antara kualitas dan kuantitas. Terkadang kita terlalu terpaku pada angka-angka yang menunjukkan suatu kondisi atau tingkatan suatu bidang tertentu. Tingkat kemiskinan misalnya, yang menurut sumber besarnya sekitar 14,15%. Yang lebih sederhana lagi, misalnya seorang pelajar SMU mendapat nilai 9 untuk pelajaran Sosiologinya.

Yang saya permasalahkan di sini adalah, bagaimana angka-angka tersebut menentukan sebuah kualitas akan sesuatu?

Apakah angka kemiskinan yang tertera di atas menunjukkan bahwa kualitas masyarakat Indonesia (secara finansial) di luar 14,15% itu, baik?

Sebenarnya saya juga masih belum mantap akan tulisan ini. Masih rancu. Tetapi ada saja di benak saya bahwa kita terkadang terlalu dibudaki oleh angka-angka satu hingga sembilan yang mengelilingi kepala. Komentar ada saya tunggu.

Wednesday, September 22, 2010

Perempuan, Tangga, dan Laki-laki

Belakangan ini makin banyak hal yang timbul di otak gue. Yang pengen gue tulis dari kemaren-kemaren, bulan-bulan lalu, tapi susah banget buat membuatnya mengalir. Makanya hari ini gue memilih pakai bahasa santai aja lah. Nggak pake saya-sayaan, atau kata baku yang sesuati EYD Bahasa Indonesia yang terlalu berat dan ribet. Yang penting.. (semoga) berisi. Seperti pada post gue sebelum-sebelumnya, gue ingin banget menulis sesuatu tentang wanita. Tentang bagaimana pemberdayaan wanita antara sekarang dan dulu, perkembangan, aktivitas, derajatnya, dan segala macamnya lah. Tapi sebenarnya, gue masih bingung harus mulai dari mana. Rasanya emang cukup sulit buat gue buat menuangkan semua hal yang ada di kepala gue.

Mungkin lebih baik gue awali dari masa lalu. Dari sedikit sejarah yang gue ingat dan yang menurut gue, penting buat diingat.
1. Ratu Sima dari Kerajaan Holing/Kalingga (kerajaan Hindu) pada abad ke 5. Seorang Ratu pemimpin kerajaan yang sangat tegas dan bijaksana. Beliau mampu membawa kerajaannya itu menuju kemakmuran dan kesejahteraan yang dirasakan oleh rakyatnya.
2. Cut Nyak Dien. Pejuang asal Aceh yang mewarisi sifat pejuang dari Ayahnya, dan dengan semangat melanjutkan perjuangan suami pertamanya. Setelah suami pertamanya wafat, Beliau menikah lagi dengan Teuku Umar yang terkenal sebagai pengacau Belanda. Alasan Cut Nyak Dien menikah lagi ialah untuk menemukan orang yang mau membantunya dalam melawan Belanda. Hingga suatu saat Teuku Umar gugur, seiring dengan Cut Nyak Dien yang menua. Tetapi semangatnya tidak pernah padam. Sebisa mungkin ia terus berjuang demi membebaskan bangsa kita dari kolonialisme. Hingga akhirnya Beliau wafat di pengasingan. Beliau berani bertarung nyawa demi bangsa.
3. Wanita yang satu ini, pasti semua orang tau. Raden Ajeng Kartini. Seorang putri asal Jepara yang sempat mengalami jauhnya kesenjangan antara derajat pria dan wanita. Beliau selalu menginginkan pendidikan, dan tentunya pendidikan yang juga diperuntukkan bagi semua perempuan di Indonesia. Intinya, kesetaraan gender. Hal tersebut Beliau usahakan dengan memulai membangun sekolah-sekolah, yang pada akhirnya diikuti oleh perempuan-perempuan di daerah lainnya. Beliau juga berhasil mendapatkan beasiswa di Belanda, walaupun terhalang oleh kedua orangtuanya. Kartini selalu menolak pemikiran sempit yang konservatif. Beliau adalah pahlawan sejati, yang juga berani serta cerdas. Sebagai perintis, Kartini diikuti oleh banyak wanita lain yang juga mendambakan keadilan bagi perempuan di Indonesia. Siti Roehana Koedoes, salah satunya. Seorang pejuang asal Sumatera Barat yang melakukan hal sejalan dengan apa yang telah dilakukan Kartini.

Gue yakin 3 contoh wanita pejuang di atas bisa menjadi dasar dari argumen-argumen yang ada di otak gue yang udah nggak sabar pengen meledak. Mungkin pertama-tama gue perlu bersyukur dulu sekarang, karena gue hidup di dunia yang sudah maju. Emansipasi wanita yang sudah berlangsung cukup lama. Dan gue tinggal menikmati hal tersebut. Tapi gue belum melihat keseteraan gender itu benar-benar ada. Menurut gue, sampai sekarang perempuan masih dipandang rendah. Tetapi mungkin hanya saja pandangan rendah itu sekarang beda. Masih ada sisa-sisa penggalan masa lalu yang menggambarkan sebuah tangga antara posisi perempuan dan laki-laki. Tentunya, kami (perempuan) berada di bawah.

Berikut beberapa poin yang ingin gue ungkapkan (agak random sih);
1. Kepemimpinan yang Bersifat Patriakhial. Ada banyak sekali perempuan yang memiliki potensi mendalam, bahkan melebihi laki-laki. Dalam bidang apapun. Dalam konteks ini, gue buat singkat aja. Perempuan itu terlalu direndahkan dalam hal memimpin. Perempuan identik sebagai pengikut yang tidak bisa membuat suatu perintah tegas atau instruksi yang padat dan jelas. Perempuan identik dengan sebutan 'si lemah' yang hanya bisa jadi anak buah. Contoh sederhananya adalah ketika Pemilu 1999 .Yang seharusnya menjadi presiden adalah Megawati (PDI-P menang -mutlak). Tetapi dengan alasan bahwa Beliau adalah wanita, maka yang diangkat menjadi presiden adalah Gus Dur. Sebuah keputusan yang konyol. Sudah diadakan Pemilu, tetapi pelaksanaannya tidak sesuai dengan suara rakyat hanya dengan alasan bodoh. Kalau kita lihat dalam sejarah, bukankah pemimpin wanita itu hebat? Malahan, Indonesia (seakan) mengalami kemunduran tanpa wanita-wanita hebat itu.

2. Pekerjaan dan Pencari Nafkah. Sulit sekali ya membuktikan bahwa perempuan juga bisa bekerja dengan tingkatan yang sama (bahkan melebihi) pria. Seringkali para istri diremehkan. Dianggap rendah hanya karena menjadi ibu rumah tangga, tetapi tidak dizinkan bekerja. Menjadi ibu rumah tangga dikira orang hanya sekedar membersihkan rumah, memasak, mencuci piring dan baju, mengurus anak, menyiram tanaman, dan sebagainya. Jika ditelusuri, pekerjaan ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang paling membosankan dan menyebalkan bagi para istri yang hanya di rumah. Bayangkan saja, seorang istri hanya sendirian di rumah, melakukan pekerjaan rumah yang tiada habisnya, tetapi.. tidak dibayar. Memang, suami mencari nafkah. Ada uang. Tetapi, apa semua suami punya kesadaran dan tanggung jawab? Ketika suami nggak bekerja, sementara ada 2 anak, ada kebutuhan, bagaimana? Jawabannya, istri yang mencari nafkah, merangkap menjadi ibu rumah tangga, juga. Seringkali pula, perempuan dianggap tidak pantas bekerja dan menghasilkan uang untuk rumah tangga, maupun untuk dirinya sendiri. Alasannya, karena wanita memiliki anak yang menjadi tanggung jawab wanita sepenuhnya. Kita semua terlalu banyak terbawa tradisi. Gue harus akui bahwa hal tersebut masih berlaku keras bagi sejumlah perempuan di Indonesia.

3. Harga Diri. Perempuan dianggap rendah. Murah. Hal ini begitu terlihat jika kita mulai mengarah ke topik pemuas birahi pria. Pekerja seks komersial, yang tubuhnya dijual dan dijadikan 'alat' sekelompok pria tidak berhati untuk melampiaskan nafsunya. Gue merinding dengernya. Mungkin ini (gue akui) adalah salah satu kekurangan perempuan di Indonesia juga. Yang rela melakukan apa saja demi dapat uang. Tapi, setidaknya, bukannya harusnya ada suatu perlindungan untuk perempuan? Kita semua punya masa depan yang harusnya cerah, bukannya masa depan yang disobek-sobek oleh pria. Yang kedua adalah, tindakan kriminal. Pemerkosaan, yang menurut gue adalah sesuatu yang melebihi kiamat buat wanita. Begitu mudah seorang lelaki memenuhi kepuasannya dengan sesaat mencuri mahkota seorang gadis muda yang jalannya (seharusnya) masih panjang. Tragis. Kejam. Gue nggak habis pikir, melihat mereka yang tidak punya hati. Atau tidak punya otak? Dan seringkali pula para korban pemerkosaan itu kurang mendapat perlindungan dari pihak yang (katanya) berwajib. Diinterogasi, ditanya-tanya dengan tidak memikirkan perasaan korban tersebut. Ujung-ujungnya, kesimpulannya itu semua adalah salah si korban. Lagi-lagi, perempuan yang dirugikan.

4. Fisik. Perempuan seringkali dianggap lebih rentan dibanding laki-laki. Dianggap lebih lemah dalam hal fisik. Perempuan dinggap tidak memiliki stamina sebanyak laki-laki. Mungkin memang benar. Tetapi gue masih melihat bahwa hal tersebut menjadi suatu kekurangan perempuan yang ditonjolkan oleh kebanyakan lelaki tidak berhati. Padahal jika dilihat, perempuan sejak belia melalui banyak perubahan-perubahan (pendewasaan) yang jauh lebih nggak enak dibanding laki-laki. Menstruasi yang dialami perempuan tentu bukan sesuatu yang tidak mengganggu. Disertai sakit ini itu dan berbagai distraksi yang bisa membuat perempuan berubah-ubah mood dan perasaan. Sedangkan laki-laki, mengalami proses pendewasaan yang merangsang dan melibatkan rasa nikmat baginya. Selain itu, perempuan akan mengandung. Berbagai gejala yang tidak enak, kemudian beratnya badan yang dibawa ke mana-mana saat kandungan semakin besar, dan pada saat melahirkan. Perempuan berada di antara hidup dan mati. Kalaupun bisa selamat, ia pun akan memikirkan bayinya terlebih dulu. Sedangkan laki-laki?

Mungkin tulisan ini agak terdengar seperti pelecehan terhadap laki-laki. Tapi gue nggak peduli. Kalau perempuan dilecehkan secara fisik, kali ini gue cuma memberi kritikan melalui tulisan. Yang nggak ada apa-apanya bila dibandingkan pemerkosaan. Gue bukannya mengeneralisasi bahwa laki-laki itu semuanya tidak berhati. Gue hanya menulis apa yang menurut gue masih terjadi sampai sekarang.

Entah kenapa gue lagi menggebu-gebu jika bicara tentang topik ini. Apalagi karena tadi, salah satu guru di SMA gue saat lagi ngajar, tiba-tiba melencengkan topik ke arah kesenjangan gender. Dan beliau pun mengutip suatu pertanyaan dari sebuah majalah kaum feminis, yaitu..
"Apa perempuan itu?"
Bukan 'siapa', tetapi 'APA'. Karena kami dijadikan objek. Sebab selama ini kami belum mendapat hak yang penuh untuk melakukan sesuatu untuk diri kami sendiri, Indonesia, dan dunia.

Gue butuh pendapat kalian. So, comments are reallyyyyy expected! ;)

Sunday, September 19, 2010

Hidup Fokus

Photobucket

Di dalam hidup ada banyak hal. Beragam. Tidak tahu apa saja. Tiap orang punya hidup yang berbeda. Tetapi, semua orang bisa memilih.

Ada prioritas.
Seperti mengatur fokus dalam kamera.
Cari prioritas, fokuskan. Walaupun hal tersebut saling memiliki kemiripan.
Yang lain buram, tetapi masih kelihatan.
Di lain waktu lagi, dipindahkan titik fokusnya.

Itu cara saya. Anda?

Thursday, September 9, 2010

Tidak Ada Kata Terlambat

Photobucket

Terinspirasi dari Ratri Yuli Ayunita ;)

Idul Fitri Untuk Semua

Mungkin kita perlu meneladani apa yang biasa dilakukan masyarakat Mesir. Apalagi jika dilihat dari kebiasaan yang dilakukan oleh umat Kristen Koptik dan umat Islam selama bulan Ramadhan maupun pada hari raya Idul Fitri. Di sana, populasi umat Kristen Koptik mencapai sekitar 20% dari 80 juta penduduk Mesir. Walaupun tetap termasuk minoritas, hebatnya mereka masih bisa menjalin hubungan yang baik antar satu sama lain.

Pada saat bulan Ramadhan, umat Kristen Koptik sangat menunjukkan rasa solidaritasnya terhadap umat Islam yang sedang berpuasa. Misalnya, mereka akan ikut berpuasa di tempat kerja, dan bahkan mengadakan buka puasa bersama dengan umat Islam. Gereja Kristen Koptik seringkali menjadikan hal ini suatu tradisi yang biasa disebut juga (seingat saya) Buka Puasa Nasional. Hal tersebut memicu hubungan yang baik dan akrab antara dua perbedaan itu. Seperti pada bulan-bulan biasanya (selain Ramadhan), umat Islam sering pula bersilahturahmi ke rumah-rumah warga Non-Muslim di sekitarnya. Demikian pula sebaliknya. Rasanya, keduanya saling menghargai dan menikmati kedamaian tersebut. Ada satu hal yang paling menarik perhatian saya. Pada saat menjelang Ramadhan sampai menjelang Idul Fitri, hampir setiap kali umat Kristen Koptik dan umat Islam bertemu secara tak sengaja (walaupun tidak saling kenal), mereka saling memberi salam, atau memberi ucapan Selamat Berpuasa, atau Selamat Idul Fitri.

Menarik. Tradisi yang sangat baik dilestarikan. Perbedaan memang perlu dipadukan dengan toleransi dan solidaritas. Dengan adanya rasa menghargai antar satu sama lain, perbedaan itu bukannya malah berpecah. Melainkan akan saling melengkapi. Bayangkan, jika setiap orang memiliki sikap inklusif, moderat, dan terbuka. Bayangkan jika kita berhasil menemukan keselarasan itu, rasanya perbedaan itu lenyap sudah. Yang ada kita sudah bersatu. Maka lengkap. Begitu yang saya tangkap.

Selingan --> Dari tadi saya sudah menulis banyak hal tentang perbedaan. Terutama tentang suku dan ras di Indonesia. Lalu saya hapus. Lebih baik saya terpaku pada satu topik sempit saja. Yaitu tentang perbedaan agama dan Idul Fitri ;)

Berbicara tentang agama, saya jadi ingat akan Terry Jones. Saya sendiri tidak mengerti apa keuntungan yang ingin ia temukan dengan melakukan pembakaran Al'Quran untuk memperingati 9 tahun terjadinya peristiwa 11 September. Mungkin hal tersebut ingin Terry Jones dan pengikut-pengikutnya lakukan agar umat Islam merasa terpojokkan akibat aksi teroris pada Gedung WTC itu. Tetapi sekali lagi saya ulang pertanyaan, di mana keuntungannya? Dengan membakar Al'Quran, apa korban-korban peristiwa itu bisa hidup lagi? Apa gedung itu bisa berdiri lagi? Lagipula, peristiwa itu bukan akhir dari Amerika Serikat. Peristiwa itu tidak membawa Amerika Serikat sampai keterpurukan yang benar-benar merugikan sampai sekarang. Untungnya, mayoritas masyarakat Amerika Serikat menolak hal tersebut. Hal itu sama saja seperti memecahkan tali persaudaraan antara manusia di dunia.

Seperti yang terjadi di negara ini. Konflik yang tajam antar satu agama dengan agama lain tidak jarang kita temui di Indonesia. Ambil contoh paling mudah. FPI. Jujur saja saya kurang mengerti kenapa mereka merasa bahwa mereka perlu melakukan suatu pembelaan. Secara subjektif, saya sendiri sebagai Non-Muslim tidak pernah merasa terganggu akan adanya puasa, Idul Fitri, suara Adzan, dan sebagainya. Malah bagi saya, itu adalah sesuatu yang menarik. Selain itu, tidak sedikit ajaran Islam yang berarti dan menyentuh. Namun saya berani akui, jika dicermati, memang ada beberapa kelompok akan kepercayaan tertentu yang terlalu menutup diri dan bersikap eksklusif akan agamanya masing-masing. Setelah saya pikir-pikir ulang, mungkin hal tersebut menjadi salah satu alasan FPI ingin membela Islam. Menurut saya, mereka memiliki niat yang baik. Tetapi, mereka hanya kurang mengerti bagaimana caranya.

Maka saya, tidak ingin sepenuhnya menyalahkan FPI akan berbagai hal buruk yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Indonesia terdiri dari 6 macam umat beragama dan berbagai aliran kepercayaan lainnya. Untuk menyelesaikan semuanya, saya yakin kita memerlukan kekuatan dari segala pihak. Tidak hanya dari Islam, atau Katolik, atau Kristen, atau Buddha. Dan seterusnya. Intinya kita semua perlu bersatu dan membuka pikiran kita masing-masing. Setiap orang membutuhkan wawasan yang pasti bisa membuka dan memperluas pikiran. Menganut suatu agama, bukan berarti hanya terpaku pada ajaran agama itu saja. Menganut satu agama, bukan berarti kita kita hanya boleh mengetahui dan mempelajari hal-hal tentang agama itu saja. Justru penting bagi kita untuk mengerti hal-hal tentang agama dan kepercayaan di sekitar kita.

Saya menyukai satu ajaran dari Islam yang mengajak kita untuk bermaaf-maafan ketika menjelang Ramadhan maupun Lebaran/Idul Fitri. Bukan hanya formalitas, tetapi maaf dari dalam hati kita masing-masing. Seperti halnya hari Natal bagi umat Kristiani, yang biasa diperingati dengan adanya pohon Natal dan lagu-lagu Natal. Di Jepang, hari Natal bagaikan hari raya bagi semua orang, bukan hanya umat Kristiani. Semua orang menyukai hiasan-hiasan pohon Natal. Nah, sama saja. Lebaran identik dengan Ketupat. Ketupat adalah makanan khas Lebaran yang disukai oleh banyak orang. Tidak hanya umat Islam. Maka, Idul Fitri tidak hanya bisa dirayakan oleh umat Islam. Secara tidak langsung, masyarakat Non-Muslim juga dapat menghayati hari raya Idul Fitri ini. Tidak ada salahnya kan, bermaaf-maafan dengan sesama. Tidak ada salahnya kan, makan ketupat? ;)

(Untuk besok, 10 September 2010)
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Mohon maaf lahir batin ;)

Maaf, bahasa saya amburadul. Acak-acakan. Tulisan yang masih sangat mentah, hahaha.

Sunday, September 5, 2010

Miris

Photobucket

Mungkin saya perlu berhenti sejenak.
Mengurangi pemikiran realistis yang analitis.

Selama ini tidak pernah terlintas di benak saya,
"Nggak afdol, kalau foto tapi nggak bayar."
Mungkin saya.. terlalu sering berpikir dengan otak.
Mungkin saya.. kurang pakai hati.

Inspired by: Hugo Giorgio

Thursday, August 26, 2010

Anak Bu Mi

Namanya Mi. Bu Mi panggilannya. Beliau idola jagat raya. Mulai dari saya, Anda, kakak saya, orang tua saya, tante saya, guru saya, tetangga saya, loper koran yang lewat rumah saya, peliharaan saya, tanaman hias di rumah saya, dan semuanya. Bu Mi adalah seorang janda. Suaminya, Pak Mi konon dulu dipuja jagat raya (juga). Tetapi, Pak Mi sudah terlalu tua. Akhirnya Bu Mi pun memutuskan untuk menggantikan peran almarhum suaminya itu.

Bu Mi sudah cukup tua. Ya jelas saja, berapa banyak makhluk yang tinggal di rumahnya. Sudah berapa lama? Lihat saja kalendar. Saya sayang Ibu, kalau boleh jujur. Saya prihatin melihat Bu Mi yang sudah cukup tua, sendiri, sakit-sakitan. Dan juga, tidak dipedulikan lagi oleh anak-anaknya, yang katanya punya kebebasan untuk merawat dan menyayangi Bu Mi.

Bu Mi selalu berkata pada saya kalau beliau suka sekali warna hijau. Lalu saya tanya kenapa warna hijau? Bu Mi pun menjawab, "kamu tidak pernah sekolah ya? Kamu tau kan, pepohonan itu menyerap karbondioksida untuk fotosintesis yang akan menghasilkan oksigen?" Ya Bu, saya anak kelas IPS, bukan IPA. Tapi saya tahu kok. Bu Mi sebenarnya tidak memerlukan pepohonan, atau yang beliau sebut hijau-hijau itu. Bu Mi sebenarnya bisa memulihkan dirinya sendiri dari berbagai penyakit yang dideritanya. Masalahnya sekarang adalah, anak-anaknya ini kewalahan. Ada yang sibuk merusak dan membuat Bu Mi sakit. Ada yang sibuk memulihkan Bu Mi. Ada yang diam saja. Ada yang bingung. Ada yang tidak mengerti. Ada yang cuek, dan sebagainya. Intinya, sebenarnya kita, sebagai anak-anak Bu Mi sedang berusaha menyelamatkan diri kita sendiri. Bukan Bu Mi. Seperti kata Bu Mi, "akibat terjadi pada anak-cucu. Bukan pada orang tua lagi."

Saya pernah bermimpi. Dalam mimpi saya itu saya melihat Bu Mi menangis. Bu Mi menangis diiringi kilat-kilat yang bermuatan listrik cukup dahsyat. Menyambar, menegur gedung-gedung pencakar langit. Ya saya baru ingat, kalau Bu Mi itu bekerja pada seseorang. Namanya Tuhan. Anak-anak Bu Mi juga mengenal Tuhan, termasuk saya sendiri. Tuhan adalah seseorang/sesuatu yang membentuk Bu Mi sampai sekarang ini. Segala perkembangan dan pertumbuhan yang dirasakan oleh Bu Mi, semua itu karena Tuhan itu. Sebagai imbalannya, Bu Mi harus selalu menjaga dirinya. Kalau tidak, bisa-bisa Tuhannya itu marah. Dan kali ini, Bu Mi menangis. Mungkin karena Tuhan marah.

Bu Mi berpesan pada saya. Ya, bukan pesan lah. Tetapi berupa pertanyaan.
Kita semua punya Ibu. Nama Ibu kita itu Bu Mi. Saya sendiri sayang Bu Mi, kalau Anda? Saya peduli terhadap Bu Mi, Anda bagaimana? Jangan biarkan Tuhan marahi Bu Mi. Jadilah anak yang berbakti pada orang tua. Ingat, akibat akan jatuh ke anak cucu, bukan orang tua lagi.

Geografi

Hari ini, saya menghadapi ulangan geografi, yang memang (bagi saya) merupakan pelajaran program IPS yang cukup sulit. Menarik, tapi ya.. Sulit.

Yang saya akan ceritakan ini tidak ada hubungannya dengan pelajaran geografi. Tapi ya, lihat saja.

G: guru
M: murid


Guru geografi saya mempunyai kebiasaan menampilkan soal ulangan melalui slide. Untuk ulangan kali ini, soalnya berbentuk pilihan ganda, berjumlah 30 soal.
G: Ayo udah pada siap ya?
M: Udah, Pak.
(Nomor demi nomor berlalu. Sampai dengan nomor 22, tiba-tiba ada kejanggalan)
M: Pak, kok soal nomor 23 nggak ada?
G: Wah masa sih?
M: Iya tuh Pak. Habis 22, langsung 24, Pak.
G: Oh, iya ya. Oke, begini deh. Kalian tulis dulu nomor 23 di kertas ulangan kalian.
M: Udah, Pak.
G: Kemudian kalian gambar lingkaran kecil di tempat jawaban nomor itu.
M: Udah, Pak.
G: Kemudian, kalian gambar wajah manusia tersenyum di situ. Menandakan soalnya dianulir.
M: (tertawa)
G: Hayoo siapa yang nggak gambar orang tersenyum?

Jujur, saya merasa ada sesuatu yang berarti dari hal sederhana tadi. Saya menemukan kebahagiaan. Hanya dengan gambar wajah sederhana yang dibuat dengan pulpen tinta, yang hanya sebesar satu baris kertas ulangan. Pada saat, ulangan geografi. Lucu juga ya. Apa hubungannya dengan soal yang dianulir?

Menarik saja. Kreatif. Yang jelas, intinya bahagia.

Tuesday, August 17, 2010

Merah, Putih, Bersatu Dalam Semangat

Photobucket

Hari ini saya singkat saja.
Pergi ke sekolah. Upacara bendera.
Hampir saya terlambat. Lalu saya lari.

Sekitar enam puluh menit upacara bendera berlangsung. Lagu Indonesia Raya, Sang Merah Putih berkibar.

Saya.. Merinding (jujur).

Banyak hal yang memicu rasa nasionalisme saya yang sempat pergi entah ke mana. Seperti tulisan- tulisan Pandji Pragiwaksono, teman-teman IPS saya, peristiwa yang saya lihat di sekitar saya, dan hal lainnya.. yang membuat saya kembali menemukan arti merah dan putih dalam diri saya.

Dan akhirnya, saya pun membuat account di twitter (setelah lama teman-teman saya menuntut saya untuk membuatnya). Untuk mengekspresikan diri saya, rasa cinta saya terhadap Indonesia, kedamaian, dan dunia. Follow @daniakp. (agak lucu ya, hahahaha).

Saya masih ingin banyak menulis di sini. Tapi, nanti saja.
Tetap berkunjung ke sini! ; )

Dirgahayu Indonesia! Semoga Indonesia, akan ada untuk selamanya. Bukan semoga, melainkan harus. Merdeka!